fiskeu

eproposal

statistik

harga

Info Lelang & Pengadaan

LAKIP

 

LATAR BELAKANG COCO BIODIESEL

Sejarah penggunaan minyak kelapa (Coconut oil) sebagai bahan bakar telah  dimulai sejak perang dunia kedua. Ketika pasokan bahan bakar diesel menipis, di Philipina telah menggunakan minyak kelapa untuk menggerakkan mesin diesel. Demikian juga dengan sebagian masyarakat di Indonesia sudah menggunakan minyak kelapa sebagai bahan bakar lampu penerang. Namun penggunaannya tidak berlanjut mengingat berbagai keterbatasan, baik dari sisi pertimbangan ekonomis maupun karena karakteristik minyaknya.

Mulai 10 tahun belakangan ini penggunaan bahan bakar dari minyak kelapa (Coconut oil) mulai dicobakan kembali di berbagai negara.  Misalnya di negara-negara Kepulauan Pasifik, seperti negara Tonga, Fiji, New Caledonia, Samoa dan beberapa daerah di kepulauan pasifik lainnya telah menggunakan bahan bakar dari minyak kelapa.
Kabupaten Berau memiliki luas areal perkebunan kelapa seluas 2.908 Ha dengan luas areal tanaman

yang menghasilkan (TM) mencapai 2.551 Ha.   Areal perkebunan kelapa di Kabupaten Berau tersebar di 13 kecamatan dengan luas areal terbesar berada di Kecamatan Biduk Biduk mencapai 1.413 Ha atau 48,6% dari total luas areal kelapa di Kabupaten Berau. Jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan perkebunan kelapa mencapai 3.091 jiwa. Produktivitas rata-rata tanaman kelapa mencapai 1,1 ton setara kopra  per ha.  

Dalam rangka memanfaatkan potensi kelapa yang tersedia serta mendukung program pengembangan Desa Mandiri Energi, maka berdasarkan hasil Feasibility Study dari Ditjen Pengolahan dan Pema-saran Hasil Tahun 2008, Kecamatan Biduk-Biduk ditetapkan sebagai lokasi  pembangunan UPH (Unit Pengolah Hasil) Coconut biodiesel dengan dana APBN sebesar Rp. 1.615.250.000,-  yang dialokasikan melalui kegiatan Satuan kerja Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2008 (Tugas Perbantuan Provinsi).
Pemilihan lokasi tersebut dida-sarkan pada kriteria yang meliputi  harga solar, harga kelapa, harga minyak goreng, potensi bahan baku, kebutuhan akan BBM, kebutuhan minyak goreng, kelembagaan petani, sarana/prasarana, dukungan aparat dan kemitraan yang ada. Minyak kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang dikeringkan) atau dari perasan santannya. Kandungan minyak dalam kopra mencapai 63-68 %.   Secara kimiawi minyak kelapa lebih stabil dibanding minyak lainnya dan memiliki sifat pembakaran yang lebih baik, sehingga tidak diragukan sebagai bahan bakar terbaik bagi diesel.  Tidak seperti minyak nabati lainnya, mesin diesel dapat dioperasikan menggunakan 100% minyak kelapa atau campuran minyak kelapa dan minyak diesel, atau menggunakan coconut biodiesel.

 

KEUNGGULAN COCONUT BIODIESEL

Tujuan utama pengembangan unit pengolahan coconut biodiesel adalah untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak yang sulit diperoleh dan relatif mahal  bagi masyarakat didaerah terpencil,  meningkatkan nilai tambah dari tanaman kelapa, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan petani.  Aplikasi teknologi yang disiapkan disamping menghasilkan solar juga minyak goreng.  Guna menjalankan usaha secara optimal berbagai alternatif produk dapat dikembangkan sesuai pertimbangan bisnis, seperti pada diagram berikut ini


PENGOLAHAN COCONUT BIODIESEL

Bahan baku yang digunakan berupa kopra dimasukkan melalui unit penghancur (slicer atau pemarut) untuk memperkecil ukuran kopra sehingga memudahkan proses ekstraksi minyak.  Ekstraksi minyak dilakukan dalam unit expeler dengan kapasitas 200 liter/jam.  Minyak yang dihasilkan berupa crude coconut oil (CCO) ditampung dan disaring sementara ampasnya (copra cake) ditampung dalam tanki penampungan ampas.  Selanjutnya Pengolahan Coconut Biodiesel dilakukan sebagai berikut:
1.Minyak kasar (CCO) selanjutnya dilewatkan melalui bag filter yang memiliki porositas 200 - 400 mikron (µ) dan hasilnya ditampung dalam tanki penampungan.
2.Minyak jernih yang dihasilkan selanjutnya dimasukkan dalam tanki deguming selanjutnya minyak yang dihasilkan dialirkan kedalam vacuum drying untuk menghilangkan kadar air
3.Minyak jernih yang dihasilkan selanjutnya dimasukkan dalam tanki pemasakan (cooking tank) dengan suhu 200oC
4.Utuk menghilangkan kotoran yang masih terdispersi di dalam minyak dilakukan penyaringan dengan menggunakan filter molecular sieve/atau filtrasi membrane.
5.Coconut biodiesel ditampung dalam tanki penampungan produk akhir sebagai bahanbakar nabati pengganti solar.

 

 

 

 

SPESIFIKASI BANGUNAN DAN MESIN UPH

Lokasi pembangunan UPH Coco-nut Biodiesel merupakan tanah milik anggota kelompok tani dengan luas areal yang diperlukan 1.000 m2.  Lahan sebagai lokasi UPH Coconut Biodiesel merupakan tanah yang sudah dipersiap-kan oleh pemerintah Kabupaten Berau.
Luas Lokasi UPH Coconut Biodiesel sekikar 1 ha yang terletak di pinggir jalan, berdekatan dengan perumahan penduduk letaknya di Kampung Biduk-Biduk Kecamatan Biduk-Biduk.  Luasan penyediaan tanah 1 ha ini selain untuk UPH Coconut Biodisel direncanakan  sebagai lokasi pengolahan Kelapa Terpadu.
Luas bangunan UPH seluas 300 m2 terdiri dari bangunan lantai jemur, gudang kopra, gudang bahan baku dan gudang kopra cake, ruang produksi, kantor, mushola, laboratorium, ruang pendukung (ruang genset, boiler dan bak) serta halaman dan lahan penunjang lainnya.
Spesifikasi teknis dan jumlah mesin serta  peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan coconut biodiesel dengan kapasitas 1.000 liter/hari yang menggunakan Teknologi Terpadu Biodiesel plant dengan Multi Produk sebagaimana pada tabel berikut ini

MANAJEMEN PENGOLAHAN

Produk yang dihasilkan berupa biodiesel dan minyak goreng.  Jumlah produksi biodiesel sebesar 400 liter per hari atau 40 % dari kapasitas unit pengolahan, dan produksi minyak goreng sebesar 600 liter per hari atau 60 % dari kapasitas UPH.  Asumsi Perhitungan Analisis Keuangan  UPH Coconut   Biodiesel sebagaimana tabel di bawah ini

Kelayakan :   NPV = Rp  2.203.563.769,       IRR =   44,17

 

Di dalam manajemen UPH ditunjuk seorang manajer yang mampu memimpin jalannya UPH. Manajer diharapkan berpendidikan D3 atau minimum SLA, sudah memiliki pengalaman bekerja di industri, dan memahami lokasi  Manajer UPH dalam menjalankan kegiatan usaha dibantu oleh tenaga administrasi dan tenaga produksi, dengan struktur organisasi, seperti pada Gambar berikut ini.